Selasa, 05 April 2011

Kemenakert​rans Kembangkan Pertanian Organik | Visijobs

Kemenakert​rans Kembangkan Pertanian Organik | Visijobs

(Visijobs-News) - Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai kawasan pertanian organik. Pengembangan pertanian organik di kawasan transmigrasi itu sangat potensial mengingat lahan dan tenaga kerja telah tersedia dan celah pasar yang masih sangat tinggi

"Kita akan bangun (pertanian organik) ini di kawasan KTM (Kota Terpadu Mandiri) mulai tahun ini," kata Dirjen Pembinaan Pengembangan Masyarakat dan Kawasan Transmigrasi (P2MKT) Djoko Sidik Pramono dalam diskusi Sosialisasi Program Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian di Kantor Kemenakertrans, kalibata Jakarta. Hadir sebagai pembicara lainnya adalah Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro

Menurut Dirjen P2MKT Kemenakertrans, Djoko Sidik Pramono Pengembangan pertanian organik di kawasan transmigrasi itu sangat potensial mengingat lahan dan tenaga kerja telah tersedia dan celah pasar yang masih sangat tinggi karena munculnya tren "Kembali ke Alam" (Back to Nature) telah mengakibatkan permintaan produk pertanian organik diselurh dunia tumbuh pesat hingga sekitar 20 persen pertahun.

Dengan harga produk pangan organik yang jauh lebih tinggi daripada pertanian konvensional diharapkan para transmigran akan meningkat kesejahteraannya dan diharapkan juga agar program itu dapat menarik calon transmigran dari para pengangguran berpendidikan.

Kemenakertrans melakukan kerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) untuk melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi para calon petani organik itu. Untuk tahap awal, Maporina melatih 400 penganggur mengenai pertanian organik dimana para peserta pelatihan itu akan dikirim ke lokasi transmigrasi yang akan dikembangkan menjadi kawasan pertanian organik. "Untuk tahap awal, investasi untuk sementara akan dibantu oleh Pemerintah, nantinya akan terserah kepada investor," kata Djoko.

Ia mengaku belum bisa menentukan kawasan mana saja yang dapat dikembangkan menjadi pertanian organik dan berapa anggaran yang akan dibutuhkan karena masih dalam pembahasan namun optimis bahwa program itu akan dapat menjadi salah satu program unggulan untuk mengatasi jumlah pengangguran dan kemiskinan yang dicatat BPS dalam sensusnya tahun 2010 sebanyak 8,9 juta penganggur dan 35 juta orang miskin.

Apalagi dengan sumber daya alam yang melimpah dimana dari total 75,5 juta hektar lahan yang dipergunakan untuk usaha pertanian, baru 25,7 juta hektar yang diolah untuk sawah dan perkebunan. “Saat ini kita baru mengujinya di Telang, Kabupaten Banyuasin dengan mengawinkan padi variatas gogo dengan metik wangi dan menghasilkan lebih banyak per hektarnya. Jika padi nonorganik per hektar bisa menghasilkan 5 ton,padi organik bisa mencapai 6-7 ton perhektar. Harganya juga tinggi sekitar Rp14.000/kg,

Sementara itu Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro menambahkan program itu juga cocok untuk menyediakan lapangan kerja bagi para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kembali ke tanah air (purna TKI).

"Mungkin bisa diwujudkan untuk membangun kawasan pengembangan pertanian organik bagi satu juta purna TKI dengan kerjasama lintas sektoral antara Kemenakertrans, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian maupun Kemeneg PP," ujarnya.

Berita ini ditayangkan di http://www.visijobs.com/beta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar